.
Wednesday, September 3, 2008
Kisah di musim dingin ( true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao,2007 )
Posted by RT 9 VNI 3 at 2:44 PM 0 comments
Labels: renungan
Tuesday, September 2, 2008
SUPER WORDS FOR TODAY….
(From Business Art with Mario Teguh, Live on O’Channel, Every Thursday at
v Tidak ada sesuatu di dunia ini yang abadi, kecuali PERUBAHAN itu sendiri.
v Orang yang mau berubah menjadi lebih baik dalam hidupnya, dijanjikan kebaikan oleh Sang Maha Pemurah. Orang berubah karena BERTINDAK. Terhadap orang yang tidak mau berubah, tidak mau berupaya dan tidak mau merubah nasib, maka tidak heran kalau dia tetap dalam keadaannya yang TIDAK MEMBAHAGIAKAN.
v Apakah ada orang yang TERTARIK, tapi TIDAK BERTINDAK?
v Kita perlu memiliki ketertarikan yang tinggi pada hal-hal yang baik, yang kita cita-citakan sebagai TENAGA yang akan membawa kita pada kecemerlangan kehidupan. Sangat disayangkan, ternyata banyak orang yang lebih berani untuk menghadapi penderitaan yang pasti daripada kemungkinan untuk berhasil.
v Kehidupan ini harus dimenangkan, didapatkan dan dialami dengan baik. Lalu bagaimana mungkin kita bisa memenangkan, mendapatkan dan mengalami kehidupan dengan kecintaan, bila kita mengeluh tentang kehidupan.
v Kita hanya akan dapat menerima KEPERCAYAAN YANG BESAR, kalau sebelumnya kita bisa DIPERCAYA DALAM HAL-HAL KECIL.
v Bagaimana mungkin kita mencapai keindahan, bila cara-cara kita tidak indah?
v KETEGASAN tidak sama dengan kekasaran, ketegasan bukanlah kekerasan dan sudah pasti bukan kemarahan.
v Janganlah kita berjalan seolah melihat fatamorgana dan menganggap bahwa keburukan dapat diubah menjadi kebaikan. Tidak ada hal buruk yang bisa menjadi kebaikan.
v Hanya dengan MENINGGALKAN KEBURUKAN, kita akan berada di wilayah baru yang mudah bagi KEBAIKAN untuk mengisi HATI KITA. Keburukan tidak bisa diubah menjadi kebaikan.
v Keburukan adalah keburukan, kebaikan adalah kebaikan. Hanya dengan meninggalkan keburukan, kita akan sampai pada kebaikan.
By Diah Arie
Posted by RT 9 VNI 3 at 1:19 PM 0 comments
“ Berilah dua bagian untuk telingamu dan satu bagian untuk mulutmu. Karena sesungguhnya diciptakan bagimu dua telinga dan satu mulut agar kamu lebih banyak mendengar daripada bicara “
![]()
LISAN, salah satu nikmat Allah SWT yang paling agung, paling aneh dan ajaib. Kecil bentuknya jika dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, tapi memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Ketaatan, dosa, celaka dan bahagia tak lepas dari bagaimana seseorang memanajemen lidahnya. Bila lisan tak terkendali, dibiarkan bicara semaunya maka kesengsaraan dunia akhirat akan menghampirinya. Sebab, manusia menanam kebaikan dan keburukan melalui lisan serta perbuatan dan yang paling banyak menjerumuskan seseorang ke dalam neraka yaitu melalui perkataan. Seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW “Bisa jadi seorang hamba mengucapkan perkataan yang tidak ia renungkan sebelumnya, maka akan menjerumuskannya ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.”
Karena itu bagi orang yang ingin berbicara, sebaiknya merenungi dulu apa yang akan diucapkan, jika ada kebaikan hendaknya diucapkan , tapi jika hanya mengandung keburukan, lebih baik diam. Inilah realisasi sabda Rasulullah SAW “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam” dan dari firman Allah SWT dalam QS Qaaf (50):18 “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”.
Sebaiknya kita mampu menjaga lisan, sebab orang yang tidak dapat menjaga lisan berarti tidak bisa memahami dirinya. Di samping itu seorang muslim harus mengetahui apa saja penyakit lisan yang dapat menjadi ladang dosa bagi lidah kita.
Berikut
1, GHIBAH, bila didefinisikan maka seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW “Engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang dibencinya, jika yang engkau bicarakan itu memang ada pada saudaramu, maka engkau telah mengghibahnya. Jika tidak ada padanya, berarti engkau telah berdusta.” Di dalam QS Al-Hujuraat (49) : 12 Allah menggambarkan orang yang gemar mengghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya “…Dan janganlah sebagian kamu mengghibah yang lain. Sukakah seseorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Ghibah termasuk dosa besar dan pelakunya harus tahu bahwa ia akan dihadapkan pada murka Allah dan orang yang mendengarkan ghibah sama dengan pelakunya. Ia tdak bisa lepas dari dosa, kecuali ia mengingkari dengan lisannya, dengan hatinya dan jika ia mampu, mencegah atau mengalihkan pada topik yang lain.
Yang perlu diingat adalah, semua kebaikan si pelaku dan pendengar ghibah akan beralih pada orang yang dighibah dan jika ia tidak memiliki amal baik, kejelekan orang yang Ia ghibahi pun akan beralih kepada si pelaku dan pendengar. Lebih mengerikan lagi apabila kita mengetahui balasan yang diterima oleh pelakunya. Seperti dikisahkan Nabi Muhammad SAW dalam malam Mi’rajnya, Beliau melihat suatu kaum yang berkuku tembaga mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, maka dijawab bahwa mereka lah orang-orang yang gemar mengghibah.
2, NAMIMAH (ADU DOMBA), diartikan dengan mengalihkan atau memindahkan pembicaraan di antara manusia dengan tujuan merusak serta memicu permusuhan dan kebencian. Singkat kata “adu domba”.
Di sekitar kita, orang yang punya profesi sebagai tukang namimah sangat banyak bergentayangan, dan lebih sering dikenal sebagai provokator kejelekan. Namimah bukan hal kecil, bahkan para ulama mengkategorikannya di dalam dosa besar karena mendorong timbulnya fitnah dan kedengkian, memutus hubungan serta memecah belah persatuan.
Kita perlu mengingat sabda Rasulullah SAW “Tidak akan masuk surga, orang yang suka mengadu domba” dan firman Allah dalam QS Al-Qalam (68) : 10-11 “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”
3. PUJIAN, mempunyai banyak bahaya diantaranya yang berkaitan dengan orang yang memuji dan yang dipuji. Untuk yang memuji, bahayanya adalah cenderung melebih-lebihkan yang berakhir pada suatu kebohongan. Sedangkan bagi yang dipuji, bisa menyebabkan sombong serta ujub (kagum) pada diri sendiri.
Nabi Muhammad SAW bersabda saat mendengar ada orang yang memuji orang lain “Celakalah engkau, engkau telah memenggal leher saudaramu itu.”
4. DUSTA ATAU BOHONG, adalah mengingkari kenyataan atau realita. Dusta atau bohong bukanlah akhlaq orang beriman, ia melekat pada kepribadian orang munafik. Seperti sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh HR Bukhari dan Muslim “Tiga ciri orang munafik, apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari dan apabila dipercaya ia berkhianat.”
Dusta atau bohong mengantarkan pelakunya pada keburukan dan siksa api neraka yang akan menantinya.
Setelah mengetahui ragam penyakit lisan, tentunya kita bersegera meninggalkannya sesuai sabda Rasulullah SAW “Di antara tanda kebaikan ke Islaman seseorang ialah, ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”.
Karena siapapun akan terhalang dari kejujuran, jika ia terbiasa berbicara tentang sesuatu yang tak berguna.
“ Janganlah kau melihat pada kecilnya dosa, tetapi lihatlah betapa agung Dzat yang kau durhakai”
By Diah Arie
Posted by RT 9 VNI 3 at 1:14 PM 0 comments
MARHABAN YA RAMADHAN
Rasulullah SAW bersabda….
“Seandainya umatku mengetahui keistimewaan Ramadhan, niscaya mereka mengharap agar semua bulan menjadi Ramadhan”.
“Ada dua kenikmatan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa, yaitu sekali pada saat berbuka dan sekali pada saat menemui Tuhannya”
QS Al-Baqarah (2) : 183
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.
Puasa atau shiyam dalam bahasa Al Quran berarti menahan diri, untuk tidak makan, minum serta menahan diri dari segala dorongan hawa nafsu.
Dari sisi lain, kehidupan manusia dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaannya dalam memenuhi kebutuhan fa’ali (makan, minum dan hubungan seks) apabila ia telah terbiasa dengan pemenuhan yang berlebihan, maka, tujuan berpuasa selain sebagai pengendali diri juga dapat berfungsi sebagai alat untuk membebaskan manusia dari belenggu kebiasaan yang berlebihan, yang selama ini mengikatnya.
Puasa dapat juga disebut sebagai jihad akbar, yaitu suatu peperangan yang bila dimenangkan maka akan dapat mengendalikan nafsu tanpa menghabisi ataupun menghancurkannya. Sebab pada bulan Ramadhan, setiap muslim dituntut untuk berperang menaklukkan nafsunya dan seperti halnya perang dalam Islam yang tidak bertujuan untuk menghabisi apalagi memusnahkan potensi lawan. Tujuannya sekedar mengendalikan, karena sejelek-jeleknya sesuatu, pasti ada segi positif dalam diri manusia itu yang dapat dimanfaatkan.
Kelak, manusia dengan segala nafsu, sikap dan sifatnya pasti akan bertemu dengan Pencipta-nya dan di dalam perjalanannya menuju ke Yang Maha Memiliki, -khususnya selama bulan Ramadhan, yang merupakan bagian dari perjalanan hidup seorang muslim- manusia berusaha sekuat kemampuannya untuk mencontoh sifat-sifat Tuhan. Bukankah Allah SWT tidak makan, bahkan memberi makan, tidak minum? Bukankah Allah SWT Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, tidak pernah membenci dan mendzalimi, menyakiti ataupun menelantarkan mahlukNya?
Jika seperti demikian hakikat puasa, maka Ramadhan adalah suatu media yang mengantarkan seorang muslim kepada “bersikap serta bersifat dengan sikap dan sifat Allah SWT.”
Lalu, apa yang harus kita persiapkan untuk menyambut bulan yang penuh rahmat ini? Jiwa yang suci dan tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, menghidupkan malamnya dengan shalat serta tadarus dan siangnya dengan ibadah kepada Sang Khalik melalui pengabdian kepada keluarga, lingkungan, bangsa dan Negara.
Karena pada bulan puasa, dosa-dosa manusia habis terbakar, akibat kesadaran dan amal salehnya, selain itu Ramadhan menjadi sebuah waktu untuk mengasah serta mengasuh jiwa seseorang. Sehingga jika seorang muslim berhasil melewati bulan Ramadhan atas izin serta ridha-Nya dan mampu menjadi “pribadi yang kembali pada fitrahNya”, maka Insyaallah dapat merasakan kenikmatan ruhani yang melebihi kelezatan jasmani.
Hanya saja yang sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengetahuinya karena tidak pernah mencobanya.
By Diah Arie
Posted by RT 9 VNI 3 at 1:09 PM 0 comments

