.

SELAMAT TAHUN BARU 2010 M

Wednesday, August 19, 2009

BRAVO ZERONINE




Friday, July 31, 2009

GO ZERONINE GO

Selamat bertanding buat atlit catur



SEMOGA ZERONINE


3 2 1

ZERONINE YOU

ZERONINE ME

ZERONINE Grows in Harmony....

GO ZERONINE GO !!!!!!!!!!!!!!!!

Saturday, July 18, 2009

Facebook & 10 Situs Gaul Terpopuler

Hingga saat ini, masih banyak yg memanfaatkan Facebook dan situs gaul lainnya sebatas untuk senang-senang, ngegosip dan narsis. sebenarnya, banyak manfaat LUAR BIASA yg bisa didapat dari Facebook dan situs gaul lainnya, seperti memudahkan urusan bisnis, melancarkan promosi, memperluas jaringan pemasaran, memperoleh informasi dengan cepat dan lain sebagainya.

Semuanya dibahas dalam buku berjudul "Kupas Habis Facebook & 10 Situs Gaul Terpopuler"





Terimakasih kepada teman-teman dari zeronine yg mendukung buku ini terbit..(minta tolong sekali lagi..tolong dibeli ya bukunya di toko buku hehehehhe.....)

by

ichsan

Monday, July 13, 2009

ARTI SEBUAH DEMOKRASI

Delapan Juli Dua ribu sembilan telah dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai hari pemilihan presiden RI Periode 2009-2014. Rakyat memilih presiden beserta wakilnya secara langsung, dan hasilnya walaupun belum secara resmi di sampaikan oleh KPU, tetapi dari hasil Quick Count dari berbagai lebaga survey menunjukan bahwa Pasangan SBY-Budiono menang dengan perolehan suara 60% lebih disusul pasangan Mega-Prabowo 27% lebih dan terakhir pasangan JK-Wiranto memperoleh 12% suara lebih.
Apapun hasilnya, tapi itulah pilihan yang sudah ditetapkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia, sejatinya yang menang bisa mewujudkan seluruh harapan-harapan yang disampaikan oleh para pemilihnya, dan yang kalah baiknya bisa menerima kekalahannya. Untuk selanjutnya bersama-sama membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Demokrasi adalah sebuah keputusan dari mayoritas suara, selanjutnya segala keputusan yang diambil dalam sebuah demokrasi harus ditaati oleh seluruhnya baik yang mayoritas maupun yang minoritas apalagi yang minoritasnya bener2 minoritas.
Itu idealnya seperti itu, tapi toh kenyataannya memang cukup sulit diwujudkan. Indonesia sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya dan bahasa dengan jumlah wilayah yang cukup luas dan jumlah penduduk yang juga cukup tinggi membuat siapapun yang dapat mandat untuk menjalankan roda pemerintahan di negeri ini tentunya menjadi sangat berat tugasnya.
Terus apa peranan kita sebagai rakyat dalam kerangka penegakan demokrasi ini, tentunya kita harus mendukung penuh hasil demokrasi dalam kapasitas sebuah negara tersebut dengan mulai dengan belajar memahami dan mempraktekan sebuah demokrasi dilingkungan kecil kita (lingkungan RT). Beda pendapat dalam sebuah demokrasi adalah wajar dan harus, tapi jika suatu keputusan sudah diambil, maka hendaknya seluruh warga mematuhi keputusan tersebut, itulah sebuah makna demokrasi. Silahkan jadi kelompok koalisi atau oposisi tapi yang jelas kedua kelompok harus tetap bayar pajak toh..............
by
ich

Saturday, June 20, 2009

SERI ILMUWAN MUSLIM

ABU ALI AL-HASAN IBNU al-HAITHAM,
PENEMU KAMERA OBSCURA
(965-1039 M)



Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara. Istilah qamara muncul berkat kerja keras al-Haitham yang terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah. Al–Haitham menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya, beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Kemudian, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia kala itu, yakni kota Baghdad. Di kedua kota tersebut al-Haitham menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.
Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah dan secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat

Jauh sebelum masyarakat Barat menemukan kamera, prinsip-prinsip dasar pembuatannya telah dicetuskan oleh al-Haitham seorang sarjana Muslim, sekitar 1.000 tahun silam, tepatnya pada akhir abad ke-10 M. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haitham bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ''ruang gelap''. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. "Kamera obscura pertama kali dibuat oleh ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),'' ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz's perspective. Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab al-Manazir (Buku optik). Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, al-Haitham lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap.

Al-Haitham merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura. Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lubang bidik lensa dengan lensa (camera).
Penggunaan lensa pada kamera obscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Joseph Kepler (1571 - 1630 M), meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip ini digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham, pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura.

Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Haitham dengan baik sekali dan George Eastman lah yang menciptakan kamera kodak. Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada al-Haitham, yang selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan Muslim.

Sejarah al-Haitham, Sang Penemu Kamera Obscura

Secara serius al-Haitham mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya.
Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen - begitu dunia Barat menyebutnya - juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Al-Haitham pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika 'Bapak Optik' dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, al-Haitham mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, al-Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian al-Haitham itu kemudian dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.

Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana. Menurut al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang tersisa bahkan karya monumentalnya, Kitab al-Manazir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.