.

SELAMAT TAHUN BARU 2010 M
Showing posts with label wisdom. Show all posts
Showing posts with label wisdom. Show all posts

Friday, September 12, 2008

MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT

VERY TOUCHING.... ......... ....


*MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI KITA TANPA SYARAT ???*

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia ..

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.


**MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* *
- - - sebuah perenungan

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat strinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih dari 32 tahun.

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan
keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun
keluhan keluar dari bibir bapak....... ...bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi,kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.

"Anak2ku.... ..... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,

dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat
dihargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

*"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak*

*mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.
* Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa
adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"


posting by ich

Friday, August 1, 2008

Pengorbanan

lagi ada kiriman dari temen...(sophie..sorry edited sebagian)..
untuk kita renungkan menjelang week end....
Alkisah di suatu pinggiran kota ada sebuah sungai lebar dan ada sebuah jembatan besar yang menjembatani ujung satu dengan ujung yang lainnya. Sehari-harinya jembatan itu terbuka karena kapal-kapal yang lewat di sungai tersebut. Apabila ada kereta api yang hendak melintas, maka jembatan itu harus diturunkan dan disatukan sehingga kereta api bisa melintas. Begitu kereta api lewat, maka jembatan akan dinaikkan kembali.
Untuk menaikkan atau menurunkan jembatan itu seorang bapak tua dipercayakan untuk menjalankan tuas. Ia sehari-harinya duduk di sebuah bangunan kecil di sisi kiri sungai tersebut untuk mengatur control tuas tersebut.
Suatu malam, seperti biasa pak tua itu sedang menunggu kereta api terakhir yang lewat. Ia melihat di kejauhan ada cahaya samar-samar dari lampu kereta api. Ia pun kemudian masuk dan menurunkan jembatan.
Tetapi sesuatu terjadi. Mendadak tuasnya macet dan jembatan tidak bisa diturunkan. Bila jembatan tidak diturunkan, maka kereta api yang lewat akan terus dan mencebur ke sungai. Pak tua itu tahu persis kalau kereta api tersebut bermuatan penumpang dan bukan barang. Dan apabila kereta api tersebut menabrak dan masuk ke sungai akan memakan banyak korban jiwa!
Pak tua itu kemudian berlari menuruni tangga ke bawah jembatan tersebut. Di bawah jembatan tersebut ada sebuah tuas untuk menurunkan jembatan secara manual. Tetapi tuas tersebut tidak bisa terkunci secara otomatis sehingga perlu seseorang untuk menahan tuas tersebut hingga kereta api lewat.
Pak tua itu menahan tuas tersebut sebisa mungkin hingga kereta api lewat. Ia mendengar suara kereta api makin lama makin mendekat. Dia harus mempertahankan posisi kereta tersebut karena apabila tidak, maka banyak jiwa yang akan melayang karena kelalaiannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari ujung sana. Anak laki-lakinya yang berumur empat tahun keluar dari bangunan kontrol dan mencari-cari ayahnya.“Ayah! Ayah! Ayah di mana?” serunya sambil berjalan hati-hati dalam kegelapan mencari-cari ayahnya.Pak tua tersebut langsung pucat! Sekujur tubuhnya menjadi dingin melihat anak tersebut berjalan di rel kereta api tersebut. “Lari!! Cepat lari dari sana!!” serunya.Tetapi sepasang kaki mungil putranya itu tidak akan bisa membuat anak itu lari cepat menghindar.
Hampir saja pak tua itu berlari untuk menyelematkan anaknya. Tetapi kemudian pak tua tersebut menyadari kalau ia tidak akan bisa kembali tepat pada waktunya untuk mempertahankan posisi jembatan apabila ia meninggalkan tuas tersebut. Selama sepersekian detik pak tua tersebut harus mengambil keputusan sulit: tetap mempertahankan posisi jembatan atau lari menyelamatkan putranya.
Beberapa saat kemudian kereta api berjalan dengan mulus, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Seluruh penumpang di kereta itu tidak menyadari kalau ada seorang anak kecil yang tertabrak dan terlempar ke dalam sungai. Mereka juga tidak menyadari malam itu seorang pria tua yang malang menangis sambil terus memegangi tuas tersebut.Mereka juga tidak melihat langkah gontai pak tua tersebut ketika pulang.
Langkah yang lebih pelan dari biasanya ketika berjalan pulang ke rumah, memberi tahu keluarganya begitu tragis kematian putra mereka.
semoga bisa menjadi pelajaran.
ichsan